Pidato Terlama Pemimpin Dunia di Panggung PBB

Jangkarnews.com-SEJUMLAH tokoh memanfaatkan PBB untuk menyampaikan pandangan dan perjuangannya. Forum di PBB dinilai sebagai tempat paling pas untuk unjuk gigi sehingga tersiar ke seluruh penjuru dunia. Sebagai momen langka, panggung PBB pun dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Tercatat sejumlah tokoh berpidato sangat lama di PBB.
1. Fidel Castro (Kuba/4 jam)

Pemimpin Kuba Fidel Castro memegang rekor berpidato paling lama di PBB, yakni 4 jam 29 menit, pada 26 September 1960. Salah satu pidato terpanjangnya tercatat berdurasi 7 jam 30 menit setelah majelis nasional memilihnya kembali sebagai presiden untuk lima tahun berikutnya pada 24 Februari 1998.

2. Nikita Sergeyevich Khrushchev (Uni Soviet/2 jam lebih)

Di pleno ke-869, saat Majelis Umum PBB, Khrushchev telah melakukan pidatonya selama 140 menit atau 2 jam lebih pada 23 September 1960.Khrushchev mengatakan bahwa pemimpin dunia yang telah hadir harus bertanggung jawab atas keadaan dunia. Kemerdekaan telah banyak meluas ke berbagai wilayah. Namun puluhan juta manusia tetap merana dan menderita oleh kolonialisme dan imprealisme.3. Soekarno (Indonesia/2 jam)

Soekarno termasuk dari kepala negara yang menyampaikan pidato terpanjang saat Majelis Umum PBB, di sesi pleno ke-88, dengan menghabiskan waktu selama 121 menit atau 2 jam, pada 30 September 1960. Seokarno mengawali pidatonya dengan membacakan terjemahan Al Quran surat Al-Hujurat ayat 14, dan Injil surat Luke pasal 2 ayat 14. Ia mengatakan bahwa pengorbanan dan penderitaan telah berakhir, ini adalah bukti bahwa keadilan telah mulai berjaya dan kejahatan telah hilang.4. Sékou Touré (Guinea/2 jam)

Pada pertemuan Majelis Umum PBB, di pleno ke-896, Touré menyampaikan pidatonya selama 144 menit atau lebih dari 2 jam, pada 10 Oktober 1960.Touré dalam pidatonya berharap akan adanya sebuah perdamaian, terutama di benua Afrika, terhadap generasi masa depan yang akan diselamatkan dari kemiskinan, kehancuran, perbudakan, kolonialisme dan imperealisme, serta segala kekecewaan dan kesulitan yang merintangi kehidupan mereka untuk menuju peradaban internasional. (Wahyono)
sindonews




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *