PEKANBARU(JKR)_Wakil WaliKota Pekanbaru, Markarius Anwar, melakukan monitoring dan evaluasi (monev) pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur makan bergizi gratis di kawasan daerah 3T (Terdepan, Terluar, Terpencil), Jalan Okura, Kecamatan Rumbai Timur, Senin (26/01/26) pagi.
Dalam kunjungannya, Markarius Anwar menyampaikan bahwa pembangunan SPPG di Okura merupakan salah satu dari tiga titik yang diajukan Pemerintah Kota Pekanbaru. Saat ini, investor telah ditunjuk dan progres pembangunan sudah berjalan sekitar 10 hari.
“Ini pembangunan SPPG atau dapur untuk daerah 3T. Kita ajukan ada tiga titik dan sekarang investornya sudah ditunjuk. Alhamdulillah sudah berjalan 10 hari dan bangunannya mulai terlihat. Mudah-mudahan bisa segera selesai dan melayani anak-anak kita sebagai penerima manfaat,” ujar Markarius Anwar kepada awak media.
Ia berharap pengerjaan pembangunan dapat diselesaikan tepat waktu dan sesuai standar yang telah ditetapkan, sehingga program makan bergizi gratis dapat segera dirasakan oleh masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.
“Targetnya 35 hari harus selesai. Sekarang baru 10 hari, masih ada sekitar 25 hari lagi. Kita doakan bisa berjalan lancar,” katanya.
Markarius menjelaskan, SPPG Okura diproyeksikan melayani lebih dari seribu penerima manfaat. Untuk siswa sekolah saja tercatat sebanyak 693 orang, belum termasuk ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta kelompok rentan lainnya.
Ia juga menyoroti persoalan lahan pembangunan. Awalnya, Pemko Pekanbaru mengusulkan lokasi di lahan pertanian milik pemerintah. Namun, karena adanya perbedaan teknis dengan investor, pembangunan dilakukan di lahan lain yang saat ini masih berstatus sewa.
“Kita minta kepada investor supaya tanah ini dibeli dan dihibahkan ke pemerintah agar tidak menimbulkan persoalan aset di kemudian hari. Secara teknis sebenarnya tidak ada masalah, ini hanya antisipasi jangka panjang,” tegasnya.
Sementara itu, Deployment Coordinator PT Putra Inti Solusindo, Agus Saputra, menjelaskan bahwa pihaknya ditugaskan untuk melakukan pendataan awal sebelum pembangunan dapur SPPG dilakukan.
“Kami mendata ibu hamil, ibu menyusui, balita, stunting, lansia, sampai peserta didik dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, termasuk pesantren dan yayasan. Setelah data selesai, baru ditentukan titik lokasi dapur,” jelas Agus.
Ia menambahkan, jarak tempuh distribusi makanan dari dapur ke sekolah tidak boleh lebih dari 30 menit. Karena itu, penentuan lokasi dapur harus mempertimbangkan efisiensi distribusi.
“Awalnya titiknya belum di sini, masih berpindah-pindah. Akhirnya disepakati di Okura. Memang ada miskomunikasi karena kami belum sampai koordinasi ke Pemko. Untuk itu kami mohon maaf,” ungkapnya.
Agus juga menjelaskan bahwa lahan yang digunakan saat ini disewa selama empat tahun. Namun, sesuai arahan Wakil Wali Kota, pihaknya akan mengusulkan pembelian lahan tersebut agar aset dapat diserahkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) dan pemerintah.
“Pembangunan dimulai sejak 10 Januari dengan waktu kerja 35 hari. Progres sejauh ini berjalan sesuai rencana. Nanti bangunan ini akan diappraisal terlebih dahulu sebelum dilakukan penyerahan aset,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pendanaan pembangunan didukung penuh oleh BGN dengan perhitungan nilai wajar melalui appraisal independen. Setelah selesai, SPPG ini diharapkan dapat beroperasi optimal dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Okura dan sekitarnya.