PEKANBARU(JKR)_PT Bumi Siak Pusako (BSP) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) di Ballroom Hotel Novotel Pekanbaru, Selasa (10/3/2026) siang. Rapat tersebut membahas sejumlah agenda penting, mulai dari pembagian dividen interim hingga strategi perusahaan untuk memperkuat kinerja dan keberlanjutan operasional.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT BSP, Raihan, menjelaskan bahwa pembahasan utama dalam rapat kali ini adalah terkait pembagian dividen sementara kepada para pemegang saham berdasarkan kinerja perusahaan sepanjang tahun 2025.
“Rapat hari ini bersama para pemegang saham membahas pembagian dividen. Setiap pemegang saham memiliki porsi yang berbeda sesuai dengan kinerja perusahaan tahun 2025 kemarin,” ujar Raihan.
Namun ia menegaskan bahwa dividen yang dibagikan saat ini masih bersifat dividen interim atau sementara. Pembagian dividen final baru akan diputuskan setelah laporan keuangan perusahaan diaudit dan dibahas dalam RUPS tahunan.
“Ini masih dividen interim karena laporan keuangan belum diaudit. Setelah audit selesai, barulah dalam RUPS tahunan ditetapkan angka laba final yang kemudian dibagi sesuai ketentuan, termasuk cadangan perusahaan,” jelasnya.
Raihan mengatakan, pembagian dividen sementara ini dilakukan karena adanya kebutuhan dari sejumlah pemegang saham. Meski demikian, pihaknya tetap mengambil langkah yang hati_hati agar pembagian tersebut tidak melampaui angka laba final yang akan ditetapkan nantinya.
Dalam kesempatan tersebut, Raihan juga memaparkan berbagai langkah yang dilakukan BSP untuk menjaga keberlangsungan perusahaan di tengah berbagai tantangan operasional.
Menurutnya, saat ini perusahaan masih dalam proses pemulihan pasca menghadapi berbagai kendala operasional dalam beberapa waktu terakhir. Karena itu, manajemen melakukan sejumlah langkah efisiensi dan penyesuaian strategi.
“Beberapa langkah yang kita lakukan antara lain menyusun ulang program kerja, melakukan negosiasi ulang kontrak-kontrak yang berjalan, serta meminta relaksasi kepada pemerintah terkait beberapa kewajiban perusahaan,” ungkapnya.
Langkah_langkah efisiensi tersebut dinilai mampu membantu perusahaan tetap bertahan (survive) di tengah tekanan biaya operasional yang cukup tinggi.
Raihan menilai, solusi jangka panjang untuk memperbaiki kinerja perusahaan adalah dengan membangun jalur pipa baru sebagai pengganti sistem pengangkutan minyak yang saat ini masih menggunakan metode trucking dan barging.
Menurutnya, penggunaan metode tersebut membuat biaya operasional menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan jika menggunakan pipa.
“Kalau pipa bisa dibangun, biaya operasional kita bisa turun hingga sekitar seperempat dari biaya yang ada sekarang. Saat ini biaya pengangkutan dengan metode trucking dan barging bisa mencapai empat kali lipat dibandingkan menggunakan pipa,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembangunan pipa baru tersebut akan menggantikan pipa lama yang sudah berusia tua dan tidak lagi optimal untuk digunakan.
Selain pembangunan pipa, BSP juga menghadapi kewajiban investasi dari pemerintah yang nilainya mencapai sekitar 130 juta dolar AS. Hingga saat ini, realisasi investasi tersebut baru mencapai sekitar 20 persen.
Untuk memenuhi kebutuhan investasi yang masih cukup besar, perusahaan berencana menggandeng mitra strategis tanpa harus mengurangi porsi kepemilikan saham pemerintah daerah.
“Kerja sama yang kita tawarkan bukan berbagi saham, tetapi pada program kerja. Misalnya untuk pengeboran tujuh sumur eksplorasi, kita membuka peluang bagi mitra untuk berpartisipasi dalam pendanaan dan pelaksanaannya,” jelas Raihan.
Menurutnya, skema tersebut memungkinkan perusahaan tetap mempertahankan komposisi kepemilikan saham sekaligus mempercepat realisasi investasi.
Raihan juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi, yang telah memberikan dukungan kepada BSP selama masa pemulihan perusahaan.
“Selama masa emergency beberapa waktu lalu, dukungan dari stakeholder sangat membantu. Banyak proses perizinan yang bisa dipercepat sehingga perusahaan dapat lebih cepat melakukan pemulihan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa manajemen BSP terbuka terhadap berbagai masukan dan kritik demi perbaikan perusahaan ke depan.
“Perusahaan harus terus berbenah agar lebih efektif dan efisien. Tantangan ke depan semakin besar, sehingga kita harus memastikan BSP tetap mampu bertahan dan berkembang,” tutupnya.