PEKANBARU(JKR.com)_Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah wajah dunia jurnalistik. Di satu sisi, teknologi menawarkan kecepatan dan kemudahan dalam mencari serta mengolah informasi. Namun di sisi lain, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait akurasi, keamanan data, etika, kebebasan pers, hingga regulasi.
Persoalan tersebut menjadi salah satu bahasan dalam Seminar/Webinar Merajut Nusantara yang digelar Anggota DPR RI periode 2024–2029, Dr. Syahrul Aidi Maazat, Lc., MA. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom itu diikuti sekitar 200 peserta dari kalangan insan pers di berbagai daerah di Provinsi Riau Rabu (16/9/26)
Mengangkat tema “Jurnalis di Era AI: Antara Kebebasan Pers, Keamanan Digital dan Regulasi”, webinar tersebut menjadi ruang diskusi bagi para jurnalis untuk memahami perkembangan AI sekaligus melihat peluang dan tantangan penggunaannya dalam aktivitas jurnalistik.
Syahrul Aidi mengatakan, perkembangan teknologi digital harus diikuti dengan peningkatan kemampuan dan kesadaran para penggunanya. Khusus bagi insan pers, pemanfaatan teknologi tidak cukup hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga harus tetap mengedepankan akurasi dan tanggung jawab jurnalistik.
“Jurnalis di era AI menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Teknologi memang dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi proses verifikasi, independensi, keamanan data, dan tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan kepada publik tetap menjadi hal penting,” ungkap Syahrul Aidi.
Menurutnya, perkembangan AI membuka berbagai peluang dalam proses jurnalistik, mulai dari membantu pencarian informasi, pengolahan data hingga mendukung produksi konten. Namun, teknologi tersebut tetap membutuhkan kontrol dan kemampuan profesional dari jurnalis agar tidak menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat.
Webinar Merajut Nusantara sendiri merupakan bagian dari kegiatan literasi dan edukasi digital yang diselenggarakan pemerintah bersama berbagai mitra terkait, termasuk kalangan legislatif."Jelasnya
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, aman, dan produktif.
Berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat di era digital turut menjadi bagian dari materi literasi. Dalam aspek kecakapan digital, pembahasan mencakup pemanfaatan perdagangan elektronik (e-commerce) serta strategi pengembangan bisnis berbasis teknologi informasi."Terangnya
Sementara dari sisi keamanan digital, masyarakat didorong untuk memahami penggunaan teknologi finansial (fintech) secara bijak serta meningkatkan kesadaran terhadap keamanan anak ketika beraktivitas di berbagai platform digital.
Aspek budaya dan etika digital juga menjadi perhatian. Masyarakat didorong untuk menciptakan ruang digital yang santun dan aman serta mencegah terjadinya perundungan siber (cyberbullying). Pemahaman terhadap pilar_pilar literasi digital juga dinilai penting agar masyarakat semakin bijak dalam menggunakan teknologi.
Bagi dunia jurnalistik, kehadiran AI pada akhirnya bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan juga menyangkut profesionalisme dan tanggung jawab terhadap publik."tambahnya
Kecepatan produksi informasi yang ditawarkan AI perlu diimbangi dengan proses verifikasi yang ketat. Jurnalis juga dituntut menjaga independensi, melindungi data, memahami keamanan digital, serta memastikan setiap informasi yang dipublikasikan dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diharapkan semakin memahami perkembangan teknologi digital dan mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab, baik dalam menjalankan tugas jurnalistik maupun dalam kehidupan sehari_hari.
Dengan demikian, kemajuan teknologi dapat menjadi alat pendukung bagi kerja jurnalistik tanpa mengesampingkan prinsip_prinsip dasar pers dan kepentingan publik."Pungkasnya