PEKANBARU(JKR.com)_Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru terus memperkuat upaya perlindungan peserta didik dengan membekali mereka kemampuan menjadi konselor sebaya. Program tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pelatihan Konselor Sebaya bagi peserta didik pendidikan nonformal.
Kegiatan yang digelar di Furaya Hotel Pekanbaru, Senin (28/9/2026), tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Pekanbaru H Markarius Anwar.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Abdul Jamal mengatakan, pembentukan konselor sebaya merupakan salah satu langkah untuk memperkuat sistem deteksi dini terhadap berbagai persoalan yang dialami anak di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, keberadaan konselor sebaya penting karena anak terkadang lebih mudah menceritakan persoalan yang dihadapinya kepada teman sebaya dibandingkan langsung kepada guru maupun orang dewasa.
"Ini penting. Kita akan membentuk konselor sebaya, artinya mereka menjadi teman curhat bagi sesama peserta didik. Dengan begitu, persoalan yang terjadi pada anak bisa lebih cepat terdeteksi," ungkap Abdul Jamal kepada wartawan Selasa (29/9/26)
Ia menjelaskan, persoalan yang dihadapi peserta didik tidak selalu terlihat secara langsung. Mulai dari kekerasan, perundungan (bullying), hingga persoalan keluarga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan perkembangan seorang anak.
Teman sebaya, kata dia, sering menjadi pihak pertama yang mengetahui adanya perubahan perilaku tersebut.
"Misalnya ada anak yang biasanya ceria, kemudian beberapa hari terlihat murung atau berubah perilakunya. Teman sebayanya yang paling cepat mengetahui. Karena itu, kita ingin membangun sistem agar informasi tersebut bisa disampaikan kepada guru BK, wali kelas atau pihak sekolah," jelasnya.
Abdul Jamal menegaskan, konselor sebaya bukan berarti mengambil alih tugas guru Bimbingan dan Konseling (BK). Mereka justru menjadi jembatan awal untuk menyampaikan persoalan yang dialami teman kepada pihak yang memiliki kewenangan untuk memberikan penanganan.
"Jadi mereka bukan mengambil keputusan sendiri. Mereka menjadi penghubung untuk menyampaikan persoalan kepada guru BK. Kalau di sekolah tidak ada guru BK, bisa disampaikan kepada wali kelas atau pihak sekolah," katanya.
Ia menilai mekanisme tersebut dibutuhkan karena tidak semua anak berani menyampaikan masalahnya secara langsung kepada guru. Ada anak yang cenderung tertutup dan memilih menyimpan persoalan yang dihadapinya.
"Ketika seseorang sedang menghadapi persoalan, belum tentu dia mau melapor kepada guru. Ada yang tertutup dan tidak mau berbicara kepada siapa pun. Di sinilah kita membutuhkan teman sebaya sebagai perantara," ujarnya.
Program konselor sebaya juga diharapkan dapat memperkuat berbagai upaya yang selama ini telah dilakukan pemerintah dalam mencegah kekerasan dan persoalan anak di lingkungan pendidikan.
Abdul Jamal mengatakan, selama ini sudah terdapat berbagai mekanisme penanganan kekerasan di satuan pendidikan. Namun, pihaknya ingin menghadirkan inovasi tambahan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan peserta didik.
"Memang persoalan kekerasan di sekolah mulai berkurang, tetapi bukan berarti selesai. Karena itu kita tambah dengan inovasi baru, bagaimana melakukan deteksi dini melalui teman curhat," ungkapnya.
Menurut Abdul Jamal, deteksi dini menjadi penting karena persoalan yang segera diketahui akan lebih mudah ditangani. Sebaliknya, masalah yang dibiarkan berlarut_larut berpotensi mengganggu perkembangan, potensi, kompetensi hingga cita_cita anak.
"Kalau persoalan anak bisa terdeteksi lebih awal, tentu lebih mudah kita selesaikan. Jangan sampai persoalan tersebut menghambat pertumbuhan dan potensi anak," katanya.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta mendapatkan pembekalan dari pihak yang memiliki kompetensi di bidang perlindungan anak dan psikologi. Materi tersebut diharapkan memberikan pemahaman mengenai langkah yang harus dilakukan ketika seorang konselor sebaya menemukan persoalan di lingkungan pertemanannya.
"Nanti mereka diberikan pembekalan, termasuk bagaimana SOP-nya. Kalau menemukan persoalan seperti ini, harus melakukan apa, melapor ke mana, dan bagaimana langkah selanjutnya sebelum persoalan tersebut ditangani oleh guru atau pihak yang berwenang," jelasnya.
Abdul Jamal menambahkan, keberadaan konselor sebaya juga diharapkan dapat membantu mengatasi keterbatasan jumlah guru BK di sejumlah sekolah.
Ia mencontohkan, terdapat sekolah dengan jumlah peserta didik mencapai sekitar 1.000 orang, sementara guru BK yang tersedia hanya satu atau dua orang. Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan dalam melakukan pemantauan secara menyeluruh.
"Kalau satu sekolah memiliki sekitar 1.000 peserta didik, sementara guru BK hanya satu atau dua orang, tentu tidak mungkin semuanya bisa dipantau secara maksimal. Karena itu, konselor sebaya ini diharapkan menjadi mata dan telinga awal bagi sekolah," pungkasnya.
Melalui program tersebut, Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru berharap tercipta lingkungan pendidikan yang semakin aman, responsif dan ramah bagi anak, sekaligus memperkuat upaya mewujudkan sekolah layak anak di Kota Pekanbaru.