PEKANBARU(JKR)_Wali Kota Pekanbaru, H. Agung Nugroho, menghadiri sekaligus meresmikan gedung Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Santa Lusia yang berlokasi di Jalan Umban Sari, Kecamatan Rumbai, Sabtu (10/1/2026) siang.
Peresmian ini ditandai dengan pemberkatan gedung dan dihadiri para tokoh agama, pengurus yayasan, pendidik, donatur, serta masyarakat.
Wali Kota Agung Nugroho menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Yayasan Santa Lusia, para pendidik, tenaga kependidikan, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi, khususnya para donatur yang telah mewujudkan berdirinya SLB tersebut.
Menurutnya, keberadaan SLB masih sangat terbatas dan kerap luput dari perhatian, padahal anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak.
“Hari ini Yayasan Santa Lusia telah menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat Kota Pekanbaru dengan menghadirkan SLB yang luar biasa. Lebih hebat lagi, sekolah ini terbuka untuk seluruh umat, tidak hanya untuk umat Katolik,” ujarnya.
Wali Kota juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Pekanbaru untuk membantu percepatan proses perizinan, meskipun kewenangan SLB berada di tingkat Provinsi Riau. Ia bahkan berjanji akan menyelesaikan izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dalam waktu satu hari kerja.
“Besok, hari Senin, saya pastikan izin tersebut selesai,” tegasnya, disambut tepuk tangan hadirin.
Agung Nugroho mengaku peresmian SLB ini menjadi agenda penting baginya, hingga ia rela meninggalkan rapat bersama seluruh pimpinan OPD Kota Pekanbaru.
“Ini adalah hari yang saya tunggu-tunggu. Anak-anak luar biasa ini membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang luar biasa pula,” katanya seraya memberikan apresiasi khusus kepada para suster yang mengabdikan diri dalam pelayanan pendidikan dan pendampingan anak-anak berkebutuhan khusus.
Sementara itu, Mgr. Vitus Rudianto Solichin, Uskup Keuskupan Padang yang membawahi wilayah Riau, mengungkapkan keprihatinannya terhadap masih minimnya fasilitas pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Provinsi Riau. Ia menilai SLB Santa Lusia hadir sebagai jawaban atas kebutuhan banyak keluarga.
“Tempat pendidikan ini terbuka untuk semua, dengan suasana komunitas yang penuh kekeluargaan agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Tanpa dukungan para donatur dan semua pihak, proyek besar ini tidak mungkin terwujud,” ungkapnya.
Ketua Panitia pembangunan gedung, Yohanes Sutirsno, dalam laporannya menyampaikan bahwa gedung SLB tersebut telah lama dinantikan. Meski secara fisik bangunan telah selesai, ia mengakui sarana dan prasarana pendukung masih dalam tahap penyempurnaan.
“Kami berharap gedung ini sudah bisa digunakan tahun ini juga, sehingga anak-anak dapat bersekolah di tempat yang layak, berkumpul, dan merasa dimanusiakan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa pembangunan gedung sepenuhnya bersumber dari donasi, tanpa modal awal dari panitia.
Saat ini, SLB Yayasan Santa Lusia telah memiliki 10 peserta didik, dan diharapkan jumlah tersebut terus bertambah seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat.
Peresmian gedung SLB Santa Lusia menjadi tonggak penting dalam upaya menghadirkan pendidikan inklusif dan berkeadilan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Kota Pekanbaru.