Naskah Kuno Pekanbaru Kembali ke Panggung, Jejak Budaya Masa Lampau Dibedah

Senin, 14 September 2026 | 19:16:58 WIB

PEKANBARU(JKR.com)_Jejak pemikiran, budaya, ilmu pengetahuan hingga kearifan lokal masyarakat Pekanbaru dan Melayu masa lampau kembali dihadirkan melalui pameran naskah kuno bertema “Curatan Pekanbaru: Naskah Kuno Pekanbaru dalam Ingatan Kolektif Nasional (IKON) Tahun 2026.”

Kegiatan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Pekanbaru tersebut berlangsung selama tiga hari, 14–16 September 2026, di Kantor Dispusip Kota Pekanbaru, Jalan Sutomo, Kelurahan Suka Mulia, Kecamatan Sail Senen (14/09/26)

Pembukaan pameran secara resmi dilakukan oleh Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho, SE, MM, yang diwakili Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), Mardiansyah, S.STP.

Mengangkat tema “Talkshow dan Pameran Naskah Curatan: Naskah Kuno Pekanbaru, Membedah Ingatan Kolektif Nasional melalui Jejak Sejarah dan Literatur Masa Lampau,” kegiatan ini menjadi ruang untuk mengenalkan kembali kekayaan literasi masa lalu kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Mardiansyah mengatakan keberadaan masyarakat dan komunitas yang masih peduli terhadap naskah kuno menjadi bukti bahwa warisan literasi masa lalu masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat saat ini.

Menurutnya, naskah kuno bukan sekadar lembaran atau kertas peninggalan masa lampau. Di balik tulisan yang tersimpan di dalamnya terdapat berbagai informasi penting mengenai budaya, pemikiran, ilmu pengetahuan, kearifan lokal serta peradaban masyarakat Pekanbaru dan Melayu pada masa lalu.

“Keberadaan kita semua di sini membuktikan bahwa semangat dan komitmen terhadap pelestarian naskah kuno masih terus hidup. Naskah tersebut memang merupakan kertas peninggalan masa lalu, tetapi di dalamnya terkandung budaya, pemikiran, ilmu pengetahuan, kearifan lokal dan peradaban luhur masyarakat Pekanbaru dan Melayu pada masa lampau,” ungkap Mardiansyah kepada wartawan.

Ia menuturkan, melalui tema Curatan Pekanbaru, masyarakat diajak menyadari bahwa apa yang ditulis oleh para pendahulu memiliki kontribusi besar terhadap pembentukan identitas budaya bangsa Indonesia.

Naskah_naskah tersebut, lanjutnya, merupakan bagian dari ingatan kolektif yang menghubungkan masyarakat masa kini dengan sejarah dan peradaban masa lalu.

“Melalui tema Curatan Pekanbaru, kita diajak untuk menyadari bahwa apa yang tertulis di masa lalu memiliki kontribusi besar dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kekayaan identitas budaya bangsa Indonesia,” jelasnya.

Mardiansyah juga menyoroti tantangan pelestarian naskah kuno di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi. Menurutnya, kemajuan zaman harus dimanfaatkan untuk menjaga agar warisan literasi masa lalu tidak hilang atau terlupakan.

Karena itu, Pemerintah Kota Pekanbaru memberikan apresiasi dan dukungan terhadap pelaksanaan pameran tersebut. Kegiatan ini dinilai tidak hanya menjadi ajang pameran fisik, tetapi juga sarana edukasi untuk menghidupkan kembali nilai dan pengetahuan yang terkandung dalam naskah kuno.

“Kita tidak hanya merawat fisiknya, tetapi juga menghidupkan kembali roh dan isi dari naskah tersebut agar dapat dipelajari dan dikembangkan oleh generasi muda,” katanya.

Ia menambahkan, naskah kuno memiliki cakupan informasi yang sangat luas. Di dalamnya dapat ditemukan berbagai catatan mengenai hukum, adat istiadat, pengobatan, sastra hingga kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Karena itu, keberadaan naskah kuno dinilai penting untuk memahami bagaimana jati diri masyarakat terbentuk hingga seperti sekarang.

“Di dalam naskah kuno tidak hanya terdapat tulisan, tetapi juga pemikiran tentang hukum, adat istiadat, pengobatan, sastra hingga informasi kehidupan masa lalu yang ikut membentuk jati diri kita hari ini,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Mardiansyah juga mengajak seluruh lapisan masyarakat, terutama pelajar, mahasiswa, komunitas dan generasi muda Pekanbaru, untuk lebih mencintai perpustakaan, peduli terhadap naskah kuno serta bangga terhadap identitas lokal.

Menurutnya, nilai_nilai luhur yang terkandung dalam naskah kuno perlu terus diperkenalkan dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Ia turut menyampaikan apresiasi kepada jajaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru, para budayawan, pemerhati sejarah, pemilik naskah serta seluruh panitia dan narasumber yang telah berkontribusi dalam menyelamatkan, merawat dan memperkenalkan kembali warisan literasi tersebut kepada publik.

“Momentum ini adalah bagian penting dari upaya menjaga agar budaya kita tidak hilang. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan menjadi ruang bersama untuk mengenal serta merawat warisan sejarah dan budaya kita,” pungkasnya.

Pameran naskah kuno yang berlangsung hingga 16 September 2026 ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat bahwa warisan tulisan masa lalu bukan sekadar benda koleksi, melainkan sumber pengetahuan dan cermin perjalanan peradaban yang patut dijaga untuk generasi mendatang.

Terkini