PEKANBARU(Jkr.com)_Semangat menjaga kelestarian alam dan merawat warisan budaya Melayu bergema di Taman Rekreasi Alam Mayang, Jalan Imam Munandar, Pekanbaru. Pemuda Melayu Riau Indonesia (PMRI) menggelar Jambore Ekologis Malay Youth Summit serta Festival Kebudayaan Melayu Riau Tahun 2026 yang diikuti ratusan generasi muda dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Riau.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis hingga Sabtu, itu mengusung tema “Kebudayaan dan Kelestarian Lingkungan Melalui Semangat Keberlanjutan Menyongsong Indonesia Emas 2045.” Tema tersebut menjadi refleksi pentingnya peran anak muda dalam menjaga identitas budaya sekaligus menjawab tantangan lingkungan dan sosial di masa depan.
Ketua Umum PMRI Riau, Khoirul Basar SH, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap generasi muda Melayu Riau agar tetap mencintai budaya dan memiliki kesadaran terhadap lingkungan.
Menurutnya, nilai_nilai budaya Melayu sejatinya memiliki hubungan erat dengan kelestarian alam dan kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, PMRI ingin menghadirkan ruang edukasi sekaligus pembinaan karakter bagi generasi muda.
“Kegiatan ini adalah bentuk rasa cinta dan kepedulian kami terhadap generasi muda di Provinsi Riau. Kami ingin warisan budaya Melayu tetap terjaga, sekaligus menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sebagai karakter anak muda Melayu ke depan,” ujarnya kamis (21/05/26)
Khoirul menjelaskan, jambore tersebut juga menjadi wadah membahas berbagai persoalan yang tengah dihadapi generasi muda, mulai dari isu lingkungan hingga bahaya narkoba. Dalam rangkaian kegiatan, PMRI menghadirkan sosialisasi pencegahan narkoba bersama pihak kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN).
Peserta kegiatan berasal dari perwakilan sekolah di 10 kabupaten dan kota di Riau. Masing_masing daerah mengirimkan sekitar 20 peserta. Sementara beberapa daerah yang berlokasi cukup jauh dari Pekanbaru, seperti Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir, belum dapat berpartisipasi penuh dalam kegiatan tahun ini.
Selama pelaksanaan jambore, peserta mengikuti berbagai agenda edukatif dan kompetitif. Hari pertama diisi dengan diskusi ekologis dan pembahasan isu energi berkelanjutan. Pada malam harinya digelar sosialisasi bahaya narkoba yang menghadirkan narasumber dari Polda Riau dan BNN.
Kemudian pada hari kedua, suasana semakin semarak dengan enam perlombaan bernuansa budaya dan kepemudaan, seperti lomba berbalas pantun, lagu Melayu solo, tari kreasi Melayu, Peraturan Baris Berbaris (PBB), hingga lomba tali_temali atau pionering.
“Kami ingin anak muda tidak hanya memahami budaya secara teori, tetapi juga ikut melestarikannya melalui kreativitas dan aktivitas positif,” tambah Khoirul.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pegiat lingkungan, anggota DPRD, hingga aparat penegak hukum.
Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Riau, Eko Budhi Purworno, mengapresiasi pelaksanaan jambore yang dinilainya mampu membangun kesadaran generasi muda terhadap masa depan daerah dan lingkungan.
“Kegiatan ini luar biasa. PMRI menunjukkan bahwa anak muda Melayu mampu berpikir tentang masa depan. Tidak hanya berbicara soal ekologis, tetapi juga menggandeng banyak pihak untuk bersama_sama membina generasi muda,” katanya.
Ia pun berpesan agar generasi muda tidak ragu melangkah dan mulai membangun kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
“Jangan takut berpikir tentang masa depan. Bangun green thinking dan green collaboration. Jangan berjalan sendiri. Mari bersama_sama menjaga alam dan lingkungan sekitar,” pesannya.
Melalui jambore ekologis dan festival budaya ini, PMRI berharap lahir generasi muda Melayu yang tidak hanya bangga terhadap budayanya, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan masa depan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.