PEKANBARU(JKR.com)_Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Riau memasuki babak baru. Melalui Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) yang dirangkai dengan kegiatan Ngobrol Bareng PUTRI (Ngopi PUTRI), Tri Wahyu Hidayat, S.Agr, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD PUTRI Riau periode 2026–2030.
Musdalub tersebut digelar di Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru, Senin (26/10/2026), dengan mengusung tema “Kebangkitan PUTRI Riau: Bersatu dan Berkolaborasi Memajukan Pariwisata Riau.”
Terpilihnya Tri Wahyu diharapkan menjadi momentum untuk mengaktifkan kembali organisasi sekaligus memperkuat peran PUTRI sebagai wadah komunikasi, kolaborasi dan promosi bagi para pelaku destinasi wisata di Bumi Lancang Kuning.
Tri Wahyu mengatakan, langkah awal yang akan dilakukan setelah terpilih adalah menghidupkan kembali organisasi hingga ke berbagai daerah di Riau.
“Tujuan utama kita adalah mengaktifkan kembali PUTRI yang sudah lama vakum. Utamanya, PUTRI kita jadikan wadah bagi para pelaku destinasi untuk bersilaturahmi dan berkolaborasi,” ungkap Tri Wahyu kepada wartawan.
Menurutnya, PUTRI juga diharapkan dapat menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dengan para pengelola dan pelaku usaha destinasi wisata. Dengan begitu, berbagai persoalan yang dihadapi pengelola destinasi dapat dikomunikasikan dan dicarikan solusi bersama.
Selain itu, DPD PUTRI Riau juga akan mendorong penerapan program_program dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP), termasuk berkaitan dengan peningkatan dan penyeragaman kualitas destinasi wisata.
Salah satu program yang akan terus dikembangkan adalah Ngobrol Bareng PUTRI atau Ngopi PUTRI. Kegiatan tersebut nantinya menjadi ruang bertukar gagasan dan pengalaman antar pelaku pariwisata.
“Kita punya beberapa program prioritas. Salah satunya Ngopi PUTRI. Insyaallah ini akan terus kita lakukan. Kita ingin para pelaku destinasi bisa saling bertukar pikiran, pengalaman dan ide,” ujarnya.
Tak hanya pertemuan tatap muka, PUTRI Riau juga akan mengembangkan media sosial sebagai sarana promosi destinasi wisata.
Melalui platform digital tersebut, pengelola destinasi diharapkan dapat mempromosikan objek wisatanya secara lebih luas tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang besar.
“Kita akan kembangkan media sosial DPD PUTRI Riau untuk mempromosikan wisata_wisata kita. Jadi destinasi bisa ikut promosi di sana tanpa harus berbayar,” katanya.
Program lainnya berupa kunjungan ke berbagai destinasi wisata. Menurut Tri Wahyu, kunjungan tersebut penting untuk membuka ruang pertukaran pengalaman antara satu destinasi dengan destinasi lainnya.
Dengan saling berkunjung, pengelola destinasi dapat melihat inovasi dan konsep yang diterapkan di tempat lain untuk kemudian dikembangkan sesuai karakter masing_masing daerah.
Tri Wahyu juga memiliki gagasan untuk mengangkat berbagai potensi Riau melalui sebuah narasi besar mengenai kisah dan kekayaan daerah yang selama ini belum banyak diketahui publik.
Ia menilai Riau memiliki kekayaan sejarah, budaya, alam dan destinasi wisata yang masih sangat besar untuk dikembangkan.
“Saya melihat di Riau ini masih banyak sesuatu yang belum ditonjolkan, baik sejarah, alam maupun destinasinya. Masih banyak yang belum terungkap ke publik,” tuturnya.
Karena itu, ia optimistis pariwisata Riau memiliki peluang besar untuk berkembang apabila seluruh pihak mampu bersatu dan membangun kolaborasi.
Tri Wahyu juga menyadari bahwa sebagai ketua yang relatif muda, dirinya masih memiliki banyak hal yang harus dipelajari.
“Menjadi ketua bukan berarti saya yang paling ahli dalam organisasi. Saya juga ingin menjadi jembatan sekaligus belajar bersama anggota. Kita harus melihat apa tantangan pariwisata kita ke depan,” katanya.
Salah satu pekerjaan rumah terbesar yang akan dihadapi kepengurusan baru adalah melakukan pendataan ulang destinasi wisata di seluruh Provinsi Riau.
Pendataan tersebut dinilai penting untuk mengetahui potensi, kondisi dan kebutuhan masing_masing destinasi sehingga program pengembangan pariwisata dapat dilakukan secara lebih terarah.
“Karena kita baru aktif kembali, tantangan pertama adalah mendata kembali destinasi yang ada di seluruh Provinsi Riau. Setelah itu kita sosialisasikan PUTRI dan mengajak para pelaku destinasi untuk bergabung,” jelasnya.
Saat ini, keanggotaan yang telah terhimpun baru sekitar 19 orang. Sementara keberadaan organisasi di daerah juga masih terbatas, di antaranya Pekanbaru, Pelalawan dan Kampar.
Dengan kepengurusan baru periode 2026–2030, PUTRI Riau menargetkan organisasi dapat berkembang lebih luas dan mampu merangkul para pengelola destinasi wisata di seluruh kabupaten/kota.
Tri Wahyu berharap kebangkitan PUTRI Riau tidak berhenti pada pergantian kepemimpinan, tetapi benar_benar menjadi gerakan bersama untuk memperkuat promosi, meningkatkan kualitas destinasi dan mendorong pariwisata Riau semakin dikenal di tingkat nasional.
“Kebangkitan PUTRI Riau harus dibangun bersama. Kita ingin menjadi wadah yang mempertemukan pelaku destinasi, pemerintah dan berbagai pihak untuk bersama_sama memajukan pariwisata Riau,” pungkasnya.

