PEKANBARU(JKR)_Wali Kota Pekanbaru H. Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota H. Markarius Anwar mengawali pekan dengan bersilaturahmi bersama seluruh RT/RW dan kader posyandu se-Kecamatan Kulim, Senin (22/12) pagi. Pertemuan digelar di Gedung UPT Pelayanan Sosial Bina Remaja Marsudi Putra Tengku Yuk, Kelurahan Mentangor, mengusung tema “Mewujudkan Masyarakat Berbudaya, Maju, dan Sejahtera.”
Agenda ini sekaligus menjadi forum terbuka pemerintah daerah menyerap aspirasi dari lini terdepan pelayanan warga.
Di hadapan peserta, Agung menegaskan bahwa silaturahmi bukan sekadar seremoni, namun ruang evaluasi bersama.
“Kami ingin mendengar langsung persoalan di Kulim_pembangunan, pendidikan, kesehatan, hingga proses pemilihan RT/RW yang belakangan jadi perbincangan,” kata Agung.
Ia menampik anggapan bahwa mekanisme uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) untuk calon RT/RW bersifat memberatkan. Menurutnya, evaluasi justru membantu memastikan bahwa perangkat masyarakat memahami tugas, bukan mencari ‘kekuasaan’ di lingkungan permukiman.
Agung bahkan memberi contoh keluhan yang muncul di lapangan:
“Ada yang mengira tes ini seperti seleksi masuk polisi atau ASN. Tidak. Ini soal kesiapan mengayomi warga.”
Agung turut mengingatkan maraknya informasi salah di media sosial, termasuk soal Perwako pemilihan RT/RW. Ia meminta masyarakat tidak terjebak provokasi.
“Jangan gampang terpengaruh informasi yang diedit atau disebarkan tanpa dasar. RT/RW bukan alat partai_aturan jelas melarang keterlibatan pengurus parpol,” tegasnya.
Pemkot ingin memastikan perangkat RT/RW menjadi ujung tombak berbagai program prioritas. Di antaranya:
1.Penyelenggaraan lembaga pengelolaan sampah (LPS)
2.Optimalisasi posyandu
3.Pemetaan bantuan sosial tepat sasaran
4.Penurunan stunting
5.Program “1 RW, 1 Posyandu”
6.Program Masyarakat Bebas Gizi Buruk (MBG)
7.Operasi Merah Putih soal kedisiplinan sekolah
Menurut Agung, tanpa keterlibatan RT/RW, program hanya tinggal wacana.
“Ada laporan soal bansos salah sasaran—itu harus dicek di lapangan. Karena yang paling tahu kondisi warga adalah RT dan RW.”
Camat Kulim, Fajri Adha, menyambut baik momen ini. Ia menyebut, sejak dilantik Agustus lalu, belum ada pertemuan besar yang mempertemukan seluruh perangkat lingkungan secara serentak.
“Ini ajang curhat RT/RW, diskusi wilayah, berbagi pengalaman, dan menyamakan langkah,” ujarnya.
Fajri juga memastikan bahwa di Kulim sejauh ini tidak ada penolakan terhadap Perwako pemilihan RT/RW.
“Yang ada hanya pertanyaan karena juknis belum turun. Setelah dijelaskan langsung Wali Kota, semuanya lebih jelas,” tambahnya.
Redam Polarisasi Pasca pilkada Menutup sesi, Agung kembali mengingatkan untuk menutup ruang perpecahan politik.
“Pilkada sudah selesai. Sekarang waktunya membangun Pekanbaru bersama. Jangan ada lagi yang saling mengganggu,” serunya.
Silaturahmi ditutup dengan dialog terbuka dan pendataan masukan untuk sinkronisasi kebijakan tingkat kecamatan. Pemerintah menargetkan juknis pemilihan RT/RW mulai berjalan tahun ini, termasuk pilot project di Kecamatan Kulim.

