DMDI Pekanbaru Dorong Green School Lewat Pelatihan Kompos di SMPN 47

DMDI Pekanbaru Dorong Green School Lewat Pelatihan Kompos di SMPN 47

PEKANBARU(JKR)_Komitmen mewujudkan Pekanbaru sebagai kota hijau (green city) terus diperkuat melalui sektor pendidikan. Ketua Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kota Pekanbaru, H. Markarius Anwar, menghadiri sekaligus membuka kegiatan praktik pembuatan pupuk kompos di SMP Negeri 47 Pekanbaru, Selasa (23/12/2025) siang.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program DMDI Go to School, yang menitikberatkan pada edukasi lingkungan sejak usia sekolah. Menurut Markarius Anwar, peran sekolah sangat strategis dalam mendukung program besar Pemerintah Kota Pekanbaru, khususnya menjelang penunjukan Pekanbaru sebagai tuan rumah pertemuan IMT-GT (Indonesia_Malaysia_Thailand Growth Triangle) pada Juni 2026 mendatang.

“Pekanbaru masuk dalam konsep green city bersama puluhan kota lainnya. Untuk mendukung itu, DMDI mengambil peran penguatan edukasi lingkungan, dimulai dari sekolah,” ujar Markarius kepada wartawan.

Ia menjelaskan, DMDI memiliki tiga fokus utama dalam mendukung green city, yakni energi, transportasi, dan pendidikan. Pada sektor pendidikan, DMDI mendorong penerapan program green school yang meliputi pengolahan sampah menjadi kompos, pemilahan sampah, daur ulang (3R), hingga pemberian apresiasi bagi siswa yang datang ke sekolah menggunakan sepeda.

“Kami ingin membiasakan anak-anak peduli lingkungan. Di sekolah nanti disiapkan parkir sepeda yang aman dan nyaman agar siswa tertarik bersepeda ke sekolah,” tambahnya.

Pelatihan komposting ini diikuti sekitar 50 peserta, terdiri dari kepala sekolah tingkat SMP. Ke depan, program serupa juga akan dilaksanakan di tingkat SD, dengan harapan peserta dapat menularkan ilmu yang diperoleh kepada guru dan siswa di sekolah masing-masing.

Selain itu, DMDI juga mengembangkan tanaman serai merah sebagai program pemberdayaan ekonomi, bekerja sama dengan DMDI pusat. Tanaman tersebut ditanam di lahan-lahan tidak terpakai dan rencananya akan dibagikan kepada masyarakat serta pondok pesantren yang memiliki lahan luas.

“Selain menjaga lingkungan, ini juga berdampak ekonomi. Pondok pesantren bisa terbantu dari sisi keuangan melalui pengelolaan lahan yang produktif,” jelas Markarius.

Sementara itu, Kepala SMPN 47 Pekanbaru, Agus Warsita, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menyebut, praktik pembuatan pupuk organik cair dan padat di sekolahnya telah memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan sampah.

“Jika setiap sekolah melakukan hal ini, kami perkirakan sekitar 750 ton sampah per bulan bisa dialihkan menjadi pupuk yang bermanfaat,” ungkapnya.

Selain kompos, SMPN 47 juga mempraktikkan pengolahan bunga telang menjadi minuman herbal serta pemanfaatan lahan terbatas sekolah untuk kebutuhan pupuk secara mandiri. Bahkan, limbah rumah tangga seperti air beras dikumpulkan oleh siswa untuk diolah menjadi pupuk cair yang nantinya dikembalikan kepada orang tua siswa.

“Kami ingin menanamkan kepedulian lingkungan kepada anak-anak. Ke depan, kami juga akan menjalin kerja sama dengan masyarakat sekitar, khususnya petani, agar keberadaan sekolah ini benar-benar membawa manfaat bagi lingkungan,” tutup Agus.

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Sekretaris III DMDI Kota Pekanbaru, Agus W, sebagai bentuk dukungan penuh DMDI dalam membangun kesadaran lingkungan melalui dunia pendidikan.

Berita Lainnya

Index