PEKANBARU(JKR)_Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI) menggelar Workshop Peningkatan Kapasitas Pelaku Usaha Wanita Perkebunan untuk Ketahanan Pangan Keluarga di Bidang Oleofood, Selasa (03/03/2026) pagi, di Ballroom Hotel Khas Pekanbaru jalan Sudirman
Kegiatan ini dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau yang diwakili Kepala Bidang Produksi Perkebunan, Vera Virgianti. Workshop tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi produk sawit sekaligus memperkuat peran perempuan dalam menopang ekonomi keluarga berbasis komoditas perkebunan.
Kepada media ini, Vera menegaskan bahwa Riau merupakan penyumbang terbesar crude palm oil (CPO) nasional dengan kontribusi sekitar 20 persen. Namun, menurutnya, dominasi di sektor hulu belum diimbangi dengan penguatan sektor hilir.
“Riau sudah sangat kuat di hulu. Sudah saatnya kita melakukan reposisi menjadi kuat di hilir. Produk turunan sawit harus memberi nilai tambah lebih besar bagi masyarakat Riau,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama ini sebagian besar industri pengolahan lanjutan masih berada di luar daerah, padahal bahan baku tersedia melimpah di Riau. Dari ratusan pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi, jumlah industri hilir masih tergolong minim.
Pemerintah Provinsi Riau, lanjutnya, berkomitmen menarik investasi industri hilir agar tidak seluruh hasil perkebunan “lari” ke luar daerah. Dengan begitu, pelaku UMKM khususnya perempuan dapat memperoleh akses bahan baku yang lebih mudah, murah, serta peluang pembiayaan yang lebih luas.
“Peran ibu_ibu sangat penting karena mereka adalah pelaku utama sebagian besar UMKM berbasis sawit. Kita ingin lebih banyak produk turunan seperti makanan oleofood, sabun, hingga kosmetik dikembangkan di Riau,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum GPPI, Dr. Ir. Hj. Delima Hasri Azahari, MS, menyampaikan bahwa workshop ini bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan pelaku usaha agar mampu menembus pasar yang lebih luas, tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga nasional hingga internasional.
Menurut Delima, penguatan kapasitas harus dibarengi dengan kolaborasi dan jejaring usaha. GPPI pun mulai membangun klaster UMKM berbasis oleochemical dan oleofood di daerah penghasil sawit dan kelapa, termasuk Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, hingga Sumatera Barat.
“Mereka tidak bisa berjalan sendiri. Harus saling membangun networking dan memperkuat ekosistem usaha. Pemerintah juga perlu mendukung dari sisi permodalan, infrastruktur, dan regulasi agar produk UMKM bisa bersaing di pasar internasional,” katanya.
Ketua Panitia Pelaksana, Reza Harry Bastian, menambahkan bahwa kegiatan ini diselenggarakan oleh DPD GPPI Provinsi Riau dan berkolaborasi dengan (HAPSI) himpunan hilirisasi petani sawit Indonesia,GPPI Pusat dan mendapat dukungan penuh dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Ia menegaskan bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai pengelola rumah tangga, tetapi juga penggerak ekonomi keluarga. Di tengah tantangan ketahanan pangan yang semakin kompleks, pelaku usaha wanita memiliki posisi strategis dalam menciptakan nilai tambah dari komoditas perkebunan.
“Workshop ini bukan sekadar forum berbagi ilmu, tetapi ruang kolaborasi dan penguatan jejaring. Harapannya, peserta mampu meningkatkan kualitas usaha, memperluas pasar, serta menerapkan praktik usaha yang lebih efektif dan berdaya saing,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, GPPI berharap lahir lebih banyak inovasi produk oleofood berbasis sawit yang tidak hanya memperkuat ekonomi keluarga, tetapi juga mendorong industrialisasi daerah dan meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan Riau di masa depan.

