Festival Lampu Colok 1447 H Bukit Raya Dibuka, Tradisi Melayu Semarakkan Malam Ramadan

Festival Lampu Colok 1447 H Bukit Raya Dibuka, Tradisi Melayu Semarakkan Malam Ramadan

PEKANBARU(JKR)_Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar secara resmi membuka Festival Lampu Colok 1447 Hijriah tingkat Kecamatan Bukit Raya yang dipusatkan di Kelurahan Tangkerang Labuai, Minggu (15/3) malam. Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian festival lampu colok yang akan digelar di seluruh kecamatan di Kota Pekanbaru selama bulan Ramadan.

Markarius menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya kepada panitia serta masyarakat yang telah menggagas kegiatan tersebut. Ia menyebut Festival Lampu Colok di Bukit Raya menjadi yang pertama digelar tahun ini di Kota Pekanbaru.

“Alhamdulillah malam ini kita berada di Kecamatan Bukit Raya untuk membuka Festival Lampu Colok. Ini yang pertama di Kota Pekanbaru dan insya Allah besok akan diikuti oleh kecamatan_kecamatan lainnya,” ujar Markarius kepada wartawan.

Ia juga memberikan apresiasi kepada pihak kecamatan dan panitia di Kelurahan Tangkerang Labuai yang telah memprakarsai kegiatan tersebut sebagai upaya melestarikan tradisi budaya masyarakat Melayu di bulan Ramadan.

Menurutnya, tradisi lampu colok memiliki makna historis yang kuat bagi masyarakat Melayu. Pada masa lalu, lampu colok digunakan sebagai penerangan jalan dari rumah menuju masjid atau surau saat listrik belum tersedia, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

“Ini merupakan tradisi kita di bumi Melayu untuk memeriahkan malam_malam menuju Lailatul Qadar. Dahulu lampu colok menjadi penerang jalan menuju rumah ibadah, sehingga semangat masyarakat untuk beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan semakin terasa,” jelasnya.

Lebih lanjut, Markarius berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang festival semata, tetapi juga mampu meningkatkan semangat masyarakat untuk memperbanyak ibadah.

Ia mengimbau masyarakat agar setelah kegiatan festival tetap melanjutkan aktivitas ibadah di masjid masing_masing, termasuk melaksanakan iktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

“Setelah festival ini, kita kembali ke masjid masing_masing untuk melaksanakan ibadah. Kita hidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan memperbanyak amal ibadah,” tambahnya.

Pemerintah Kota Pekanbaru sendiri berencana menggelar Festival Lampu Colok di seluruh kecamatan agar kemeriahan Ramadan dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.

“Awalnya ada rencana dipusatkan di satu tempat, tetapi jika hanya di satu lokasi tentu kemeriahannya tidak tersebar. Karena itu kita laksanakan di kecamatan_kecamatan agar suasana Ramadan terasa di seluruh wilayah,” ungkapnya.

Markarius juga menyebutkan bahwa kegiatan tersebut telah dianggarkan untuk masing_masing kecamatan. Ia berharap ke depan festival lampu colok dapat dikembangkan menjadi agenda tahunan yang lebih meriah, bahkan berpotensi dilombakan dengan penilaian dan hadiah untuk meningkatkan kreativitas masyarakat.

Dengan digelarnya Festival Lampu Colok ini, diharapkan tradisi budaya Melayu tetap terjaga sekaligus memperkuat semangat kebersamaan masyarakat dalam menyambut malam_malam penuh berkah di bulan suci Ramadan.

Berita Lainnya

Index